Pesantren, Penjara, Surga

Mondok itu pada dasarnya memang tidak enak. Dulu, di tahun-tahun ketika telepon masih menjadi barang yang teramat mewah, kawan-kawan dan senior-senior saya di pondok biasa menulis surat untuk berkomunikasi dengan orang tua, keluarga, atau sahabat. Untuk menandai tanggal penulisan di akhir surat, mereka tidak menulis “Prenduan, 10 November 1991”, tetapi, “Penjara Suci, 10 November 1991”. Kawan-kawan saya itu seakanakan ingin bilang bahwa sekalipun pesantren mirip penjara, tetapi ia adalah penjara yang suci, tempat kebaikan-kebaikan bersemai. Hanya saja, kadang-kadang kami juga dengan iseng menafsirnya dari sudut pandang yang berbeda. Ya, pesantren memang “suci”, tapi ia tetaplah sebuah “penjara”.

Tentu saja ada berjuta alasan untuk tidak menyukai penjara. Yang paling mendasar adalah keterkungkungan dan hilangnya kebebasan. Kita bisa merasakannya saat menyimak lagu Panbers, Hidup Terkekang, yang populer di tahun 1970-an ini: Hidup bagaikan seekor burung/dalam sangkar yang terkekang/Biar sangkarku terbuat dari emas/lebih baik kuhidup di hutan luas. Membandingkan penjara dengan sangkar memang masuk akal, sebab keduanya mirip, samasama mengungkung dan membelenggu. Tapi pesantren, kalau mau dianggap serupa dengan sangkar, jelas tidak terbuat dari emas—dan Panbers barangkali tidak tahu bahwa ada juga pesantren yang terletak di tengah hutan yang luas.

Pesantren, penjara, dan sangkar. Terasa mirip. Tetapi benarkah hidup di penjara itu sama sekali tidak berguna? Benarkah hidup di “hutan luas” itu selalu lebih baik dibandingkan terkurung di dalam “sangkar”? Coba tanyakan itu kepada Buya Hamka yang menyelesaikan salah satu magnum opus-nya, Tafsir Al-Azhar, saat dipenjara oleh Rezim Soekarno. Suatu hari, beliau ditanya apakah pernah menyimpan dendam kepada Sang Proklamator itu. Secara mengagumkan, beliau menjawab, “Dendam itu termasuk dosa. Selama 2 tahun 4 bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Hamka barangkali sekedar ingin menunjukkan bahwa selalu ada hikmah di balik periode paling sulit dalam hidup manusia. Tetapi bagaimana dengan Rasulullah SAW yang pernah bersabda bahwa dunia ini, bagi orang Mukmin, sejatinya adalah penjara? “Ad-dunyâ sijn al-mu’min wa jannah al-kâfr”, sabda beliau dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh banyak sekali ulama, termasuk Imam Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibn Hibban. Dunia adalah penjara bagi orang Mukmin, tapi surga bagi orang kafr.

Bagi saya, pesantren mirip dunia dalam sabda Rasulullah SAW itu. Ia “penjara” bagi santri-santri yang pandai memanfaatkan waktu, kesempatan, dan fasilitas yang ada secara positif, sekaligus “surga” bagi mereka yang tidak menggunakan waktu-waktunya dengan baik atau menjalaninya secara sambil lalu saja. Analogi ini mungkin agak membingungkan. Tapi semoga cerita berikut bisa memperjelas apa yang saya maksud.

Hadits tentang dunia sebagai penjara bagi orang Mukmin itu memang kerap menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Seorang ulama, konon, pernah ditanya, “Jika hadits itu benar, maka mengapa masih banyak orang Muslim yang kaya raya dan hidup nyaman, sementara banyak pula orang kafr yang miskin dan hidup sengsara? Bukankah itu berarti bahwa dunia ini sebetulnya bisa juga menjadi surga bagi orang Mukmin dan penjara bagi orang kafr?”

Ulama itu dengan santai menjawab begini. “Hadits itu tidak salah. Kalau ada seorang Mukmin yang kaya raya, sejahtera, dan hidup nyaman di dunia ini, maka apa yang dia nikmati itu sebetulnya masih

terhitung seperti ‘penjara’ jika dibandingkan dengan apa yang bisa diperolehnya nanti di surga. Sebaliknya, kalau ada seorang kafr yang miskin, sengsara, dan hidup prihatin di dunia ini, maka segala kesulitan yang dihadapinya itu masih terhitung sebagai ‘surga’ jika dibandingkan dengan apa yang akan dideritanya di neraka nanti.”

Saya suka jawaban cerdas di atas. Jadi, dunia ini bisa menjadi “penjara” atau “surga” bukan karena apa yang manusia temui di dalamnya, melainkan melalui perbandingan dengan apa yang bisa ia peroleh di akhirat nanti. Bagi saya, pesantren juga demikian. Ia bisa menjadi “surga”, bisa pula menjadi “penjara”, bukan berdasarkan senyaman apa kita menjalani hidup di dalamnya. Semua orang juga paham bahwa mondok itu relatif tidak nyaman, tidak menyenangkan. Tetapi masa depan yang cerah saya kira adalah milik santri-santri yang menjalani hidup di pesantren ini seperti mereka menjalani hidup di “penjara”: bersusah payah, menepikan rasa lelah, berjuang sepenuh tubuh dan hati, mengenyahkan godaan untuk menyerah dan pergi. Sebaliknya, siapapun yang menjalani hidup di pesantren seperti di “surga”, berlehaleha, berfoya-foya, bekerja seadanya, beristirahat sebelum waktunya, boleh jadi akan dipaksa untuk bersusah payah di masa tua, “terpenjara” di saat ia seharusnya bebas merdeka.

Jadi, pilih surga atau penjara? Ah, andai saya bisa memutar balik waktu, tentu saya akan memilih hidup yang “lebih-penjara” di pesantren dulu. Pada titik ini, saya setuju dengan Mario Teguh, bahwa ada kesenangankesenangan tertentu yang seharusnya dulu saya tinggalkan, sebab beberapa kesenangan itu adalah “cara gembira menuju kegagalan”. Mari bersenang-senang dalam “penjara”!

Ditulis oleh

Dr. KH. Ghozi Mubarok Idris, MA.

Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan / Rektor Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Sumenep

Dimuat di QA Cetak Edisi April 2019/Rajab 1440

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *