RAHASIA DI BALIK RESHUFFLE

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu berusaha mengubah keadaan mereka sendiri.” (QS; Ar-Ra’d:11)

Begitulah kira-kira prinsip yang di pegang oleh para pendahulu Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Bahwa suatu perubahan internal akan membentuk suatu tindakan eksternal.

Tadi malam, 05 September 2019, reshuffle (pergantian) pengurus organtri ISMI masa khidmah 2019-2020 dilaksanakan tepat setelah pembacaan Surat Yasin yang rutin hampir dibaca setiap malam jumat. Menurut saya, reshuffle ini dilakukan semata-mata untuk setidaknya 3 hal mendasar. Pertama yaitu untuk merefresh atau membakar kembali semangat para pengurus yang baru saja tertidur lelap. Bagaimana tidak, jika kita membuka lembaran sejarah Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, untuk tahun ini terbukti bahwa jumlah santri baru yang mendaftar menempati angka tertinggi dalam artian santri baru di tahun ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Lulusan SD/MI berjumlah 306 orang, adapun lulusan SMP/MTs mencapai 160 orang.

Jumlah yang membeludak ini membuat para pengurus yang berjumlah 180 orang sedikit kewalahan ditambah lagi santri lama yang jumlahnya hampir mencapai angka seribu membuat kuantitas energi para pengurus cepat terkuras. Sebagian dari pengurus pun banyak yang mengeluh dan bahkan ada yang lari ke jabatan lain. Terutama rayon, yang merupakan jabatan paling enteng dibandingkan dengan jenis jabatan lain. Bisa dibilang rayon merupakan tempat berenak enakan bagi para pengurus. Rayon menjadi sasaran utama para pengurus yang mengesampingkan nilai barokah yang akan datang setelah mengerjakan amanah dengan ikhlas serta tuntas.

Tarbiyatul Mu’allimien al-Islamiyah. Jika ditinjau dari sisi etimologis, santri dan alumni pondok pesantren al-amien prenduan hendak dicetak menjadi muslim yang cendikiawan atau berpengetahuan. Sesuai dengan prinsip pondok: Iman Sempurna, Ilmu Luas, Amal Sejati. Ada suatu hadits, al-‘ulamaa amienullah fil ardli, “Orang-orang yang berilmu merupakan kepercayaan Allah di muka bumi”. Kata Amien yang berarti kepercayaan pada hadits di atas menjadi sandaran bahwa Pondok Pesantren Al-Amien bertujuan mencetak santri santrinya supaya menjadi orang yang dapat dipercaya. Menggunakan nama Al-Amien sebagai bentuk tabarrukan (pengharapan akan barokah) terhadap Nabi Muhammad SAW.

Kemudian alasan kedua diadakannya reshuffle adalah untuk menyadarkan para pengurus bahwa mereka adalah bagian dari organtri yang notabenenya memegang dan memainkan peran yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan almamater tercinta ini, yaitu li’izzil islam wal muslimin. Bukan hanya karena rasa malas yang membuat mereka itu tidak melaksanakan apa yang harus mereka laksanakan sebagai pengurus, namun fenomena yang janggal ini juga terjadi karena sebagian dari mereka tidak sadar bahwa bereka sangat dibutuhkan oleh kyai dan juga pondok. Akibatnya, mereka hanya mengetahui dan menyadari bahwa mereka hanyalah santri biasa seperti halnya adik-adik kelas di bawahnya yang masih dan terus membutuhkan arahan dari atasan. Mereka tidak sadar bahwa merekalah yang ada di atas dan telah serta akan terus dilihat dari bawah, menjadi panutan yang seharusnya memberi teladan yang baik.

Jika diperhatikan secara seksama, proyeksi miniatur dari hakikat para pengurus yang menjadi panutan para santri terjadi ketika pelaksanaan reshuffle itu sendiri. Ketika satu-persatu nama para pengurus disebutkan yang disusul dengan masuknya mereka dari depan masjid melewati babussalam, mata para santri, semuanya tanpa terkecuali, tertuju pada para pengurus yang berjalan di tengah tengah mereka menuju mihrab. Semuanya melihat. Melihat pada pengurus yang akan memberi mereka banyak pelajaran yang akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan sepanjang hayat. Ketika sampai di depan mihrab, para pengurus berbalik badan dan menghadap ke santri. Sayang hanya saat itulah pengurus merasakan bahwa mereka itu ada. Ketika santri memperhatikan mereka dan mereka pun memperhatikan gerak gerik santri di sekelilingnya. Sedangkan implementasinya dalam keseharian mereka hampir tidak ada sama sekali. Itulah sedikit tentang filosofi pelaksanaan reshuffle.

Yang ketiga, yang merupakan inti dari semua hal. Tidak hanya berlaku di lingkungan pondok pesantren namun juga berlaku pada siapapun yang merasa dirinya orang muslim. Untuk memperbarui niat. Niat merupakan hal kecil yang bisa mendatangkan hal yang besar. Perbuatan baik sebesar apapun jika didasari dengan niat yang kurang benar apa lagi salah, maka perbuatan itu akan menjadi perbuatan yang fana dan sia-sia. Seperti sabda Rasulullah yang artinya , “Betapa banyak amalan akhirat yang berubah menjadi amalan dunia karena niat yang buruk.”. Ruhul Jihad. Itulah yang diharapkan dari semua ini. Berjuang demi pondok pesantren karena Allah Yang Maha Esa dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih, tanpa mengharap pujian, ketenaran, dan apapun itu yang bisa merusak hakikat jihad. Supaya ruhul jihad yang harus ada pada setiap penghuni pondok tidak hilang, maka diadakanlah reshuffle agar para pengurus dapat merubah dan memperbaiki niatnya yang nantinya akan menghasilkan suatu berubahan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Ditulis Oleh;

*Ali Sajad

Santri Nihai’e, Asal Sumenep

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Uzair al-kafidi berkata:

    Patah tumbuh, hilang berganti
    Siap memimpin dan siap dipimpin

    Itulah prinsip santri dan guru di TMI Al-Amien Prenduan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *