Sosialisasi Pertama BANANSA

Mudir Ma’had, Kiai Abd. Warits, S.Pd.I sedang men-serve- bola

Al-Jufri – Sudah menjadi kewajiban bagi setiap santri Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) untuk menggunakan bahasa resmi (Arab & Inggris) pada setiap gerak-gerik kehidupan sehari-harinya. Peraturan-peraturan tentang bahasa sudah sama-sama diketahui oleh seluruh santri TMI, khususnya santri-santri senior (II-VI). Lalu bagaimana dengan santri yang hingga saat ini masih berstatus santri baru?.
Rabu malam (17/7), Bagian Pembinaan Bahasa (BANANSA) selaku penanggung jawab utama kebahasaan di TMI AL-Amien Prenduan dari Organtri ISMI mengadakan safari kecil-kecilan ke rayon tempat berdiam santri-santri tersebut. Tujuan diadakannya safari tersebut dikhususkan untuk bersosialisasi tentang budaya berbahasa asing TMI sekaligus memeriksa kondisi rayon dan kamar dari pantauan bahasa.
Awal sampai ke lokasi, sebuah fenomena yang seharusnya tak dirasakan oleh santri baru pun mengejutkan para mu’allimien tersebut. Bagaimana tidak, sudah berkali-kali dita’kitkan tentang wajibnya tazwid sebelum tidur nampaknya tak dihiraukan sama-sekali oleh pengurus rayon. Terlihat hanya ada satu kamar yang melaksanakan mandat dari BANANSA tersebut, yaitu kamar 3.
Mlm. Fendi, sebagai ketua BANANSA juga merasa risih ketika menanyakan ke anggota kamar tentang teks pidato yang seharusnya saat itu sudah dihafal oleh seluruh santri.
“Mau ngafal tapi teksnya tidak ada harokatnya, lim!”
Keluh salah-seorang santri ketika ditanya penyebab tidak hafalnya teksi pidato yang sudah seminggu lebih ditempel di setiap kamar.
Sebelum pulang, BANANSA mengumpulkan seluruh anggota rayon Al-Jufri di lantai dua untuk lebih menekankan penjelasan tentang peraturan kebahasaan, di antaranya tentang membawa buku/kamus ke manapun pergi, tidak mengangkat suara saat berbahasa Indonesia dan lain-lain. (in

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *